kesehatan mental – mungkin terdengar seperti topik “tambahan” dibanding anatomi, farmakologi, atau KMB yang jelas-jelas keluar di soal UKOM/UJIKOM.
Namun, kalau kamu jujur pada diri sendiri, berapa kali kamu merasa sebenarnya kamu paham materi, tapi saat tryout atau ujian simulasi, kepalamu blank, jantung berdebar, tangan dingin, dan tiba-tiba semua yang kamu hafal hilang? Di titik itulah kesehatan mental diam-diam memegang kendali: bukan cuma soal “tidak stres”, tetapi soal bagaimana otakmu bisa tetap fokus, tenang, dan tajam saat mengerjakan soal yang menentukan masa depanmu sebagai Tenaga Kesehatan (Nakes).
Sebagai pejuang UKOM/UJIKOM, kamu bukan hanya berhadapan dengan tumpukan modul dan soal, tetapi juga shift malam, pasien kritis, keluarga yang menunggu kabar, dan kadang rasa bersalah kalau merasa “egois” meluangkan waktu belajar.
Kombinasi antara beban kerja klinis dan tekanan lulus UKOM ini bisa menggerus kesehatan mental pelan-pelan tanpa kamu sadari. Di sinilah pentingnya kamu memahami apa itu kesehatan mental, bagaimana gejala awal gangguannya, dan yang paling penting: bagaimana menjaganya secara realistis di tengah jadwal jaga dan persiapan ujian yang padat.
Memahami kesehatan mental: Bukan Sekadar “Tidak Stres”

Sebelum masuk ke strategi, kita perlu satu pemahaman yang sama dulu: apa sebenarnya kesehatan mental itu, dan kenapa ia sepenting tekanan darah dan saturasi oksigen?
Secara umum, kesehatan mental adalah kondisi kesejahteraan emosional, psikologis, dan sosial yang membuat seseorang mampu menghadapi tekanan hidup, menyadari potensi diri, bekerja secara produktif, dan berkontribusi pada lingkungan sekitarnya. WHO menjelaskan kesehatan mental sebagai kondisi ketika individu menyadari kemampuannya, mampu menghadapi stres kehidupan yang wajar, dapat bekerja secara produktif, dan berpartisipasi dalam komunitas. Artinya, kesehatan mental bukan cuma tentang “tidak punya gangguan jiwa”, tetapi tentang seberapa optimal kamu bisa berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.
Federasi Kesehatan Mental Dunia juga menekankan bahwa kesehatan mental mendukung perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang selaras dengan lingkungan sosial. Bagi kamu, pejuang UKOM/UJIKOM, ini berarti: kesehatan mental yang baik akan membuatmu lebih mudah menyerap materi, mengingat guideline, mengambil keputusan klinis yang tepat, dan tetap manusiawi saat menghadapi pasien dan keluarga pasien.
Kalau ditarik lebih dalam, kesehatan mental mencakup tiga dimensi penting:
- Kesejahteraan emosional
Ini berkaitan dengan kemampuanmu merasakan dan mengelola emosi positif maupun negatif. Bukan berarti kamu tidak boleh sedih atau cemas, tetapi kamu bisa mengenali, menerima, dan mengelolanya tanpa tenggelam di dalamnya. Misalnya, kamu cemas menjelang tryout, tapi kamu tetap bisa belajar, bukan malah scroll media sosial berjam-jam untuk kabur dari rasa cemas. - Kesejahteraan psikologis
Ini menyangkut bagaimana kamu memandang diri sendiri, seberapa realistis ekspektasimu, dan seberapa puas kamu dengan hidupmu. Pejuang UKOM sering terjebak dalam pola pikir “kalau aku gagal, berarti aku bodoh dan tidak layak jadi nakes”. Padahal, kesehatan mental yang baik membuatmu bisa berkata, “Aku mungkin gagal kali ini, tapi aku bisa belajar dan mencoba lagi.” - Kesejahteraan sosial
Ini terkait kemampuanmu menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain: teman sejawat, keluarga, senior, dan pasien. Kesehatan mental yang baik membuatmu mampu berkomunikasi, meminta bantuan, memberi dukungan, dan tetap terhubung, bukan menarik diri dan merasa sendirian dalam perjuangan.
Dengan kata lain, kesehatan mental adalah fondasi yang menopang cara kamu berpikir, merasa, dan berperilaku. Dalam konteks UKOM/UJIKOM, kesehatan mental yang baik akan memengaruhi:
- Konsentrasi saat belajar dan mengerjakan soal.
- Kemampuan mengelola panik saat waktu ujian hampir habis.
- Daya tahan menghadapi kegagalan tryout atau nilai yang belum sesuai harapan.
- Kualitas interaksi dengan pasien saat kamu tetap harus dinas sambil belajar.
Tanpa fondasi ini, sekuat apa pun kamu belajar, hasilnya bisa tidak maksimal karena “mesin utamanya” (pikiran dan emosi) tidak dalam kondisi prima.
Strategi Realistis Menjaga kesehatan mental di Tengah Persiapan UKOM

Banyak nakes dan mahasiswa kesehatan terbiasa mengabaikan sinyal tubuh dan emosi sendiri. Kamu mungkin berpikir, “Ah, cuma capek,” atau “Wajar lah, namanya juga mau UKOM.” Padahal, beberapa gejala bisa jadi tanda bahwa kesehatan mentalmu sedang butuh perhatian serius.
Secara fisik, gangguan kesehatan mental atau stres berat bisa muncul sebagai:
- Sulit tidur atau tidur tapi tidak nyenyak, sering terbangun.
- Gemetar, keringat berlebih, otot tegang, terutama di leher dan bahu.
- Jantung berdebar tanpa aktivitas berat, kadang disertai rasa sesak.
- Lelah terus-menerus meski tidak banyak aktivitas fisik.
- Sakit kepala, sakit perut, atau keluhan fisik lain yang tidak jelas penyebab medisnya.
- Mulut terasa kering, pusing, atau mual saat menghadapi situasi yang menekan (misalnya sebelum ujian).
Secara emosional dan perilaku, tanda-tandanya bisa berupa:
- Mudah marah, tersinggung, atau meledak karena hal kecil, termasuk pada pasien atau rekan kerja.
- Sulit fokus membaca materi, satu paragraf diulang berkali-kali tapi tidak masuk.
- Menarik diri dari teman, malas berkomunikasi, merasa tidak ada yang mengerti.
- Merasa tidak berharga, gagal, atau “tidak pantas” jadi nakes.
- Menggunakan pelarian tidak sehat: merokok berlebihan, minum alkohol, makan berlebihan, atau begadang tanpa tujuan jelas.
Kalau kamu mulai sering merasakan kombinasi gejala di atas, itu bukan tanda kamu lemah. Itu tanda tubuh dan pikiranmu berteriak minta istirahat dan penataan ulang. Di sinilah pentingnya kamu berhenti sejenak, mengakui bahwa kesehatan mentalmu sedang terganggu, dan mulai mencari cara untuk menanganinya.
Kesehatan mental tidak pernah berdiri sendiri. Ia dipengaruhi oleh banyak faktor, baik dari dalam diri maupun dari luar.
Dari sisi internal, ada faktor biologis dan psikologis:
- Faktor biologis bisa berupa ketidakseimbangan zat kimia otak, riwayat keluarga dengan gangguan mental, atau kondisi medis tertentu.
- Faktor psikologis meliputi kepribadian, cara kamu memaknai pengalaman, pola pikir (mindset), dan cara kamu belajar menghadapi masalah sejak kecil.
Dari sisi eksternal, pengalaman hidup punya pengaruh besar:
- Tekanan akademik dan klinik: tuntutan nilai, target kompetensi, dan beban kasus di lahan praktik.
- Lingkungan kerja: budaya senioritas yang keras, kurangnya dukungan dari atasan, atau konflik dengan rekan sejawat.
- Kondisi keluarga: masalah ekonomi, konflik keluarga, atau kurangnya dukungan emosional.
- Peristiwa traumatis: kehilangan pasien, kejadian medis yang tidak diharapkan, atau pengalaman dimarahi di depan umum.
Bagi pejuang UKOM/UJIKOM, kombinasi antara faktor internal dan eksternal ini bisa membuat kesehatan mental goyah. Namun, penting untuk diingat: mengalami tekanan bukan berarti kamu lemah. Justru, menyadari bahwa kesehatan mentalmu terpengaruh dan berusaha menanganinya adalah bentuk keberanian dan profesionalisme.
Sekarang, mari kita kaitkan langsung kesehatan mental dengan performa UKOM/UJIKOM. Bayangkan dua skenario:
1. Kamu menguasai materi, tapi:
– Tidurmu berantakan.
– Kamu cemas berlebihan sampai sulit makan.
– Setiap kali membuka soal, kamu langsung panik dan merasa “pasti salah”.2. Kamu menguasai materi cukup baik, dan:
– Tidurmu relatif teratur.
– Kamu cemas, tapi masih bisa mengelola dengan teknik napas dan self-talk positif.
– Saat mengerjakan soal, kamu bisa membaca dengan tenang, menganalisis, dan memilih jawaban terbaik.
Secara teori, orang pertama mungkin lebih banyak hafalan. Tapi dalam praktik ujian, orang kedua punya peluang lebih besar untuk menjawab dengan benar karena otaknya bekerja dalam kondisi lebih stabil. Kesehatan mental yang baik membuat:
- Fungsi kognitif (memori, konsentrasi, pengambilan keputusan) berjalan optimal.
- Regulasi emosi lebih baik, sehingga kamu tidak mudah panik atau blank.
- Daya tahan mental meningkat, sehingga kamu bisa bertahan mengerjakan soal panjang tanpa cepat lelah secara psikologis.
Inilah alasan kenapa kesehatan mental harus kamu anggap sebagai bagian dari strategi belajar UKOM, bukan sekadar “bonus” kalau sempat.
Sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting: bagaimana menjaga kesehatan mental secara realistis, bukan sekadar teori indah yang sulit diterapkan di tengah jadwal jaga dan belajar.
Baca Juga : Soal UKOM Perawat Ahli Muda: Kisi-Kisi, Tips, dan Strategi Lulus
1. Belajar Menerima Hal yang Tidak Bisa Kamu Ubah
Dalam persiapan UKOM, ada hal-hal yang bisa kamu kontrol dan ada yang tidak. Jadwal ujian, standar kelulusan, atau sikap beberapa orang di sekitar mungkin di luar kendalimu. kesehatan mental yang baik dimulai dari kemampuan membedakan keduanya.
Alih-alih menghabiskan energi untuk mengeluh tentang hal yang tidak bisa diubah, arahkan fokus ke hal yang bisa kamu atur: jadwal belajar, kualitas istirahat, cara kamu merespons stres, dan strategi mengerjakan soal. Sikap menerima ini bukan pasrah, tetapi bentuk adaptasi yang sehat.
2. Mengelola Pikiran: Dari “Aku Pasti Gagal” ke “Aku Sedang Belajar”
Pikiran negatif yang berulang bisa menggerogoti kesehatan mental. Misalnya:
- “Aku bodoh, nggak bakal lulus.”
- “Yang lain lebih siap, aku ketinggalan jauh.”
- “Kalau gagal, hidupku hancur.”
Coba ubah narasi ini menjadi lebih realistis dan suportif:
- “Aku belum menguasai semua, tapi aku sedang belajar setiap hari.”
- “Setiap tryout adalah latihan, bukan vonis akhir.”
- “Gagal itu mungkin menyakitkan, tapi bukan akhir dari segalanya.”
Mengelola pikiran seperti ini bukan sekadar “positive thinking kosong”, tetapi cara menata ulang cara otakmu memaknai situasi, sehingga kesehatan mentalmu tetap terjaga.
3. Micro-Rest: Istirahat Mini di Tengah Shift dan Belajar
Sebagai nakes atau mahasiswa kesehatan, kamu mungkin tidak punya kemewahan libur panjang. Namun, kesehatan mental bisa sangat terbantu dengan micro-rest: istirahat singkat tapi berkualitas.
Contoh micro-rest yang realistis:
- Di sela shift, ambil 3–5 menit untuk menarik napas dalam, menutup mata, dan merilekskan bahu dan rahang.
- Setelah 45–60 menit belajar, istirahat 5–10 menit untuk berdiri, stretching ringan, minum air, atau sekadar melihat jauh ke luar jendela.
- Sebelum tidur, matikan layar gadget 15–20 menit lebih awal dan lakukan aktivitas menenangkan: baca ringan, journaling singkat, atau doa.
Micro-rest seperti ini membantu menurunkan ketegangan fisik dan mental, sehingga kesehatan mentalmu tidak terus-menerus berada di mode “siaga darurat”.
4. Menjaga Koneksi Sosial: Jangan Berjuang Sendirian
kesehatan mental sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan sosial. Di tengah persiapan UKOM, mudah sekali merasa “aku harus fokus sendiri” dan akhirnya menarik diri. Padahal, berbagi cerita dengan teman seperjuangan bisa:
- Mengurangi rasa terisolasi.
- Memberi perspektif baru (“Ternyata bukan cuma aku yang takut gagal.”).
- Menjadi sumber motivasi dan tips belajar yang efektif.
Kamu tidak perlu selalu curhat panjang. Kadang, sekadar saling kirim pesan, belajar bareng online, atau diskusi soal sudah cukup untuk menjaga kesehatan mental tetap stabil.
5. Gaya Hidup Sehat: Hal “Klise” yang Justru Paling Pengaruh
Banyak orang menganggap saran seperti olahraga, makan sehat, dan tidur cukup sebagai nasihat klise. Namun, dari sudut pandang kesehatan mental, ini adalah pilar utama.
- Aktivitas fisik membantu melepaskan hormon yang meningkatkan mood dan mengurangi stres. Tidak harus olahraga berat; jalan kaki 10–15 menit, stretching, atau senam ringan sudah membantu.
- Pola makan seimbang menjaga energi dan konsentrasi. Terlalu banyak kafein dan gula bisa membuat jantung berdebar dan cemas makin parah.
- Tidur berkualitas adalah “reset” alami otak. Begadang terus-menerus justru menurunkan kemampuanmu menyimpan dan mengingat informasi.
Ingat, tubuh dan pikiranmu adalah satu sistem. Menjaga tubuh berarti ikut menjaga kesehatan mental.
6. Hindari Pelarian yang Merusak
Saat tertekan, wajar kalau kamu mencari pelarian. Namun, beberapa pelarian justru merusak kesehatan mental dan fisik dalam jangka panjang, seperti:
- Merokok berlebihan.
- Konsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang.
- Menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial untuk kabur dari realitas.
Alih-alih itu, cari pelarian yang lebih sehat: hobi ringan, menulis jurnal, mendengarkan musik, atau aktivitas kreatif sederhana. Bukan berarti kamu tidak boleh hiburan, tetapi pastikan hiburanmu tidak menjadi sumber masalah baru.
Sebagai pejuang UKOM/UJIKOM, kamu juga perlu menyadari bahwa kesehatan mental bukan hanya penting untuk dirimu, tetapi juga akan muncul dalam bentuk soal kasus. Misalnya, kamu bisa menemukan vignette seperti:
> Seorang perawat berusia 24 tahun mengeluh sulit tidur, jantung berdebar, dan sering merasa tegang menjelang ujian kompetensi. Ia juga mengeluh sakit kepala dan nyeri perut yang tidak membaik dengan obat. Pemeriksaan fisik dalam batas normal. Tindakan awal yang paling tepat adalah…
Di sini, kamu diminta bukan hanya menghafal definisi, tetapi memahami hubungan antara gejala fisik dan kesehatan mental, serta intervensi yang tepat: edukasi, teknik relaksasi, konseling, atau rujukan ke profesional kesehatan jiwa bila perlu.
Memahami konsep kesehatan mental akan membantumu:
- Membedakan antara keluhan fisik murni dan keluhan yang berkaitan dengan stres/ansietas.
- Menentukan pendekatan komunikasi yang empatik pada pasien.
- Menyusun rencana asuhan yang holistik, bukan hanya fokus pada gejala fisik.
Jadi, ketika kamu belajar kesehatan mental, kamu sebenarnya sedang memperkuat dua hal sekaligus: daya tahanmu sebagai pejuang UKOM dan kompetensimu sebagai calon nakes yang utuh.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti kamu harus mengatasi semuanya sendirian. Ada saatnya kamu perlu mengakui bahwa kamu butuh bantuan profesional, sama seperti pasien yang butuh dokter saat demam tinggi tidak kunjung turun.
Pertimbangkan untuk mencari bantuan psikolog, psikiater, atau konselor bila:
- Gejala cemas, sedih, atau marah berkepanjangan dan mengganggu fungsi harianmu (belajar, bekerja, berinteraksi).
- Kamu mulai memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau merasa hidup tidak ada artinya.
- Keluhan fisik (sakit kepala, nyeri perut, jantung berdebar) sering muncul tanpa penjelasan medis yang jelas dan berkaitan dengan situasi stres.
- Kamu merasa tidak punya lagi energi mental untuk menjalani hari, meski secara fisik tidak banyak aktivitas.
Mencari bantuan bukan tanda kegagalan, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan profesi. Kesehatan mental yang terjaga akan membuatmu lebih siap menghadapi UKOM dan lebih layak dipercaya pasien di masa depan.
Di tengah semua ini, kamu tidak harus berjalan sendiri. Mengikuti bimbingan belajar online dan tryout UKOM yang terstruktur bisa membantu mengurangi beban mental: kamu tidak perlu lagi bingung harus mulai dari mana, materi apa yang prioritas, dan bagaimana mengukur kesiapanmu. Dengan sistem belajar yang rapi, kamu bisa mengalokasikan lebih banyak energi untuk menjaga kesehatan mental, bukan habis untuk memikirkan strategi belajar dari nol.
Pada akhirnya, kesehatan mental bukan tentang menjadi orang yang tidak pernah menangis, tidak pernah takut, atau tidak pernah lelah. kesehatan mental adalah tentang bagaimana kamu tetap bisa berjalan, meski pelan, sambil mengakui bahwa kamu lelah, takut, dan kadang ingin berhenti sebentar.
Sebagai pejuang UKOM/UJIKOM, kamu memikul banyak hal sekaligus: harapan keluarga, kebutuhan finansial, idealisme menolong pasien, dan keinginan membuktikan diri. Wajar kalau kadang pundakmu terasa terlalu berat. Namun, ingat: jas putih itu memang berat, tapi bukan berarti kamu harus memakainya dengan mematikan perasaan sendiri.
Mulailah dengan langkah kecil: akui perasaanmu, jaga tubuhmu, rawat hubunganmu, dan beri ruang bagi dirimu untuk istirahat. Jadikan kesehatan mental sebagai bagian dari strategi lulus UKOM, bukan sekadar topik yang kamu baca lalu lupakan. Kamu tidak harus sempurna untuk layak lulus dan menjadi nakes yang baik; kamu hanya perlu cukup sehat—secara fisik dan mental—untuk terus belajar dan bertumbuh.
Kalau hari ini kamu merasa sangat lelah, ingat: istirahat bukan berarti menyerah. Mengatur napas, menata ulang strategi, dan merawat kesehatan mental justru adalah cara paling dewasa untuk memastikan kamu bisa sampai ke garis akhir. UKOM mungkin hanya sekali-dua kali dalam hidup, tapi kesehatan mental akan menemanimu sepanjang karier. Jaga dia baik-baik, karena dari sanalah ketenangan tanganmu saat memasang infus, ketegasan suaramu saat memberi edukasi, dan ketulusan matamu saat menatap pasien berasal.
Kamu tidak sendirian. Pelan-pelan, satu soal, satu shift, satu hari pada satu waktu. Dan di antara semua target nilai dan sertifikat, jangan lupa: dirimu sendiri adalah “pasien” pertama yang perlu kamu selamatkan.
Sumber Referensi
- PSIKOLOGI.ESAUNGGUL.AC.ID – Pengertian Mental Health dan 10 Cara Menjaganya
- EPRINTS.POLTEKKESJOGJA.AC.ID – 4. chapter 2
- WHO.INT – Mental health: strengthening our response
- HALODOC.COM – Kesehatan Mental
- JOURNAL.UKWMS.AC.ID – Kesehatan Mental Remaja di Masa Pandemi COVID-19: Tinjauan dari Segi Kesejahteraan Emosional, Psikologis, dan Sosial
- AYOSEHAT.KEMKES.GO.ID – Pengertian Kesehatan Mental
- ALODOKTER.COM – Mental Health dan Pentingnya untuk Kesejahteraan Hidup
- RSA.UGM.AC.ID – Bulan Kesehatan Mental: Pentingkah Menjaga Kesehatan Mental bagi Remaja?
Program Value Jadi NAKES 2025
“APK Bimbel UKOM Mahasiswa Kesehatan 2025 Belajar & Berlatih Memakai Metode Cepat”



📋 Cara Membeli dengan Mudah:
- Unduh Aplikasi JadiASN: Temukan aplikasi JadiASN di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
- Masuk ke Akun Anda: Login ke akun JadiNAKES Anda melalui aplikasi atau situs web.
- Pilih Paket yang Cocok: Dalam menu “Beli”, pilih paket bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pastikan untuk melihat detail setiap paket.
- Gunakan Kode Promo: Masukkan kode “BIMBELNAKES” untuk mendapat diskon spesial sesuai poster promo
- Gunakan Kode Afiliasi: Jika Anda memiliki kode “RES128”, masukkan untuk diskon tambahan.
- Selesaikan Pembayaran: Pilih metode pembayaran dan selesaikan transaksi dengan aman.
- Aktivasi Cepat: Paket Anda akan aktif dalam waktu singkat setelah pembayaran berhasil.
Ayoo Download Aplikasi JadiAsn karena banyak sekali yang bisa kamu dapatkan agar kalian CEPAT TERLATIH dengan Soal soal NAKES 2025!!!
- Dapatkan ribuan soal CPNS 2025 dengan pembahasan yang mudah dipahami, berupa video dan teks
- Live Class Gratis (Berlajar Bareng lewat Zoom)
- Materi-materi NAKES 2025
- Ratusan Latsol NAKES 2025
- Puluhan paket Simulasi NAKES 2025
- dan masih banyak lagi yang lainnya

