Apa itu uji kompetensi – Uji kompetensi adalah penilaian resmi untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional tenaga kesehatan sesuai standar nasional. Setiap tahun, ribuan nakes menunggu pengumuman seleksi ASN dan PPPK dengan rasa deg-degan yang sama: apakah nilai dan berkas sudah cukup kuat? Di tengah persaingan yang makin ketat, uji kompetensi bukan lagi formalitas, melainkan “gerbang” utama pengakuan profesional dan peluang masuk ASN/PPPK.
Bagi perawat, bidan, dan tenaga kesehatan lainnya, uji kompetensi sering terasa seperti ujian penentu arah karier. Wajar jika cemas, apalagi mendengar kisah gagal atau tertunda pengangkatan. Namun lebih dari sekadar lulus atau tidak, uji kompetensi adalah bukti kesiapan Anda menangani pasien sesuai standar dan etika profesi.
Apa Itu Uji Kompetensi: Makna, Konsep, dan Posisi dalam Karier Nakes

Sebelum masuk ke strategi lolos atau teknis pelaksanaan, kita perlu memahami dulu esensi dari uji kompetensi. Bukan sekadar tes teori, bukan juga sekadar ujian praktek, uji kompetensi pada dasarnya adalah proses pengakuan profesional yang sangat sistematis.
Secara konsep, uji kompetensi (sering juga disebut penilaian kompetensi) adalah proses pengumpulan dan evaluasi bukti oleh seorang penilai atau asesor untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap, dan kinerja seseorang dibandingkan dengan standar kerja yang telah ditetapkan. Standar ini bisa berupa Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), standar profesi nasional, standar internasional, atau standar khusus dari suatu lembaga.
Artinya, yang dinilai bukan sekadar “seberapa banyak materi yang dihafal”, tetapi apakah seseorang:
- menguasai pengetahuan yang relevan,
- mampu mempraktikkan prosedur dengan benar dan aman,
- menunjukkan sikap profesional yang sesuai etika,
- serta dapat bekerja sesuai standar dalam situasi nyata.
Dalam konteks tenaga kesehatan, uji kompetensi berada di titik yang sangat krusial. Di pendidikan tinggi, khususnya untuk program vokasi dan profesi kesehatan, uji kompetensi menjadi syarat formal kelulusan dan penerbitan sertifikat profesi. Di dunia kerja, terutama terkait seleksi ASN/PPPK dan penempatan di fasilitas pelayanan kesehatan, hasil uji kompetensi digunakan sebagai bukti bahwa tenaga kesehatan tersebut benar-benar memenuhi standar minimal untuk praktik.
Secara hukum, sertifikasi kompetensi kerja di Indonesia sudah diatur dalam berbagai regulasi, antara lain Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden yang mengatur sistem pelatihan kerja, sertifikasi, dan sistem nasional kualifikasi. Dalam konteks ini, sertifikat kompetensi yang dihasilkan dari uji kompetensi adalah bukti resmi bahwa seseorang telah memenuhi kualifikasi yang diakui negara.
Jadi, uji kompetensi bukanlah “ujian tambahan yang memberatkan”, melainkan mekanisme formal yang dirancang untuk melindungi masyarakat sekaligus melindungi Anda sebagai tenaga profesional. Dengan lulus uji kompetensi, Anda mendapatkan pengakuan yang sah bahwa kemampuan Anda sudah sampai pada level yang dipersyaratkan.
Tujuan, Manfaat, dan Kenapa Uji Kompetensi Wajib untuk Tenaga Kesehatan
Banyak mahasiswa maupun tenaga kesehatan muda bertanya, “Kenapa sih harus ada uji kompetensi lagi? Bukannya sudah kuliah bertahun-tahun, skripsi, praktik klinik, dan sebagainya?” Pertanyaan ini sangat manusiawi, apalagi ketika rasa lelah dan tekanan persiapan ujian menumpuk.
Namun, kalau kita melihat tujuan dan manfaat uji kompetensi secara utuh, gambarnya akan jauh lebih jelas.
1. Menjamin Pencapaian Kompetensi Akhir Secara Objektif
Di pendidikan kesehatan, proses belajar berlangsung bertahun-tahun, dengan dosen, preseptor, dan lahan praktik yang beragam. Penilaian harian, ujian blok, praktik klinik, dan tugas-tugas sudah memberikan gambaran kemampuan, tetapi sifatnya sering kali sangat lokal dan kontekstual.
Uji kompetensi hadir sebagai “pengunci” akhir: penilaian nasional yang objektif, terstandar, dan seragam. Dengan begitu:
- Mahasiswa dari kampus A di kota besar dan kampus B di daerah memiliki standar kelulusan kompetensi yang sama.
- Penilaiannya tidak hanya berdasarkan subjektivitas dosen tertentu, melainkan mengikuti pedoman dan instrumen nasional.
- Lulusan yang dinyatakan kompeten benar-benar telah melewati tolok ukur yang jelas dan terukur, bukan sekadar “dirasa cukup”.
Bagi Anda sebagai calon tenaga kesehatan, ini berarti ketika Anda dinyatakan kompeten, Anda berada dalam level yang sama dengan rekan sejawat dari seluruh Indonesia yang lulus di tahun yang sama.
2. Menjaga Kualitas Lulusan dan Kepercayaan Publik
Dalam profesi kesehatan, kepercayaan masyarakat adalah segalanya. Pasien datang dengan keyakinan bahwa tenaga kesehatan yang melayani mereka:
- tahu apa yang dilakukan,
- mampu mengambil keputusan klinis yang tepat,
- dan menjunjung tinggi etika serta keselamatan pasien.
Uji kompetensi membantu memastikan bahwa:
- Tidak ada lulusan yang “lolos” ke dunia praktik dengan kompetensi yang masih di bawah standar.
- Fasilitas pelayanan kesehatan memiliki dasar yang kuat untuk percaya bahwa nakes yang mereka rekrut sudah tersaring oleh mekanisme nasional.
- Masyarakat mendapatkan perlindungan dari praktik yang tidak aman atau tidak kompeten.
Di sisi lain, bagi profesi itu sendiri, uji kompetensi memperkuat citra profesionalisme. Profesi yang memiliki sistem uji kompetensi ketat biasanya lebih dihargai, baik di dalam negeri maupun secara internasional.
3. Meningkatkan Mutu Pendidikan dan Profesionalisme Tenaga Kerja
Dampak uji kompetensi tidak berhenti pada individu. Hasil ujian secara nasional sering dijadikan bahan evaluasi:
- institusi pendidikan,
- kurikulum,
- dan proses pembelajaran klinik.
Ketika ada pola kelemahan yang berulang (misalnya, banyak peserta gagal di area penatalaksanaan gawat darurat, atau farmakoterapi tertentu), kampus dan lembaga terkait akan terdorong untuk memperbaiki cara mengajarnya. Dalam jangka panjang, ini meningkatkan mutu pendidikan dan kualitas lulusan.
Bagi tenaga kesehatan yang sudah bekerja, uji kompetensi (baik yang bersifat awal maupun berkala untuk sertifikasi lanjutan) menjadi momentum untuk:
- memperbarui pengetahuan,
- merefleksikan praktik,
- dan menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan pedoman terbaru.
4. Menilai Kesesuaian Bakat dan Kesiapan untuk Peran Tertentu
Tidak semua orang cocok untuk setiap peran. Ada tenaga kesehatan yang sangat kuat di ranah klinik langsung, ada yang lebih bersinar di manajerial, edukasi, atau penelitian. Melalui uji kompetensi yang terstruktur, kemampuan dasar untuk menjalankan peran klinis standar bisa dipetakan.
Dalam konteks seleksi ASN/PPPK tenaga kesehatan, bukti lulus uji kompetensi sering kali menjadi salah satu filter untuk memastikan bahwa yang diterima:
- bukan hanya punya ijazah,
- tetapi juga terbukti kompeten secara praktik.
Hal ini meminimalkan risiko penempatan tenaga yang belum benar-benar siap di fasilitas yang membutuhkan kemandirian tinggi, misalnya puskesmas terpencil atau rumah sakit rujukan.
Jenis Uji Kompetensi dan Contoh Konkret di Bidang Kesehatan
Uji kompetensi di Indonesia tidak tunggal. Ada yang diselenggarakan negara, lembaga sertifikasi, maupun perguruan tinggi. Model dan formatnya pun berbeda tergantung profesi dan jenjang. Untuk memahami peta besarnya, mari lihat beberapa bentuk utama yang relevan, lalu kita kaitkan dengan tenaga kesehatan.
1. Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD / UKOM)
Di kedokteran, uji kompetensi paling dikenal adalah UKMPPD, yang sering disebut juga UKOM dokter. Posisi ujian ini sangat strategis:
- Menjadi syarat untuk memperoleh gelar dokter dan sertifikat profesi.
- Diikuti oleh mahasiswa kedokteran yang sudah menyelesaikan seluruh tahapan preklinik dan klinik.
- Biasanya dilaksanakan beberapa kali dalam setahun (empat kali), memberi kesempatan bagi yang belum lulus untuk mengulang pada periode berikutnya.
Format penilaiannya biasanya terdiri dari:
- CBT (computer-based test), yang menguji aspek pengetahuan klinis, penalaran, dan penerapan ilmu secara komprehensif.
- OSCE (Objective Structured Clinical Examination), yang menilai keterampilan klinis dan komunikasi melalui roleplay dokter-pasien di berbagai station, misalnya anamnesis, pemeriksaan fisik, informed consent, penjelasan terapi, dan lain-lain.
Keduanya wajib lulus. Ini menunjukkan bahwa seorang dokter tidak cukup hanya kuat di teori, tetapi juga harus benar-benar bisa mengaplikasikannya dengan cara yang aman dan manusiawi di depan pasien.
2. Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter Gigi
Serupa dengan kedokteran umum, program profesi dokter gigi juga memiliki uji kompetensi tersendiri. Pesertanya adalah mahasiswa yang sudah menyelesaikan pekerjaan klinik di klinik gigi pendidikan.
Ujian ini berfungsi sebagai:
- penilaian akhir praktik klinik,
- gerbang untuk mendapatkan pengakuan sebagai dokter gigi,
- dan filter untuk menjamin bahwa kemampuan teknis (seperti tindakan konservasi gigi, bedah minor, prostodonsia, ortodonsia dasar, dan lain-lain) benar-benar dikuasai pada level minimal yang dipersyaratkan.
Di sini, aspek keterampilan manual, ketelitian, dan keselamatan pasien menjadi sorotan utama.
3. Uji Kompetensi Tenaga Kesehatan Lain (Perawat, Bidan, dan Profesi Kesehatan Lainnya)
Di luar dokter dan dokter gigi, kelompok tenaga kesehatan lain seperti:
- perawat,
- bidan,
- tenaga gizi,
- analis kesehatan,
- fisioterapis,
- dan berbagai tenaga kesehatan lainnya,
juga memiliki skema uji kompetensi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan profesi.
Secara umum, pola yang diterapkan adalah:
- uji kompetensi sebagai syarat kelulusan atau mendapatkan sertifikat profesi,
- penilaian yang menggabungkan aspek teori dan praktik,
- keterlibatan lembaga pemerintah seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, dan perguruan tinggi dalam penyelenggaraan.
Untuk perawat dan bidan, misalnya, uji kompetensi memotret kemampuan:
- melakukan asuhan keperawatan atau kebidanan secara menyeluruh,
- mengambil keputusan klinis dalam batas kewenangan,
- menerapkan prosedur yang aman,
- menjunjung etika dan hak pasien.
Di era seleksi ASN/PPPK, kelulusan uji kompetensi ini menjadi salah satu “modal dasar” yang sangat diperhatikan, karena terkait langsung dengan legalitas praktik dan kepercayaan publik.
4. Uji Kompetensi Guru (UKG) dan Profesi Lain (Sebagai Perbandingan)
Walaupun fokus kita adalah tenaga kesehatan, memahami jenis uji kompetensi di profesi lain membantu memberi gambaran bahwa sistem ini bukan sesuatu yang eksklusif.
- Guru mengikuti Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk mengukur kompetensi pedagogik dan profesional sesuai bidang studi.
- Profesi lain seperti pekerja sosial, insinyur, dan berbagai bidang teknis mengikuti uji kompetensi yang mengacu pada standar khusus dan SKKNI.
Polanya sama: ada standar, ada asesor, ada bukti kompetensi, dan ada sertifikat sebagai pengakuan formal. Artinya, Anda sebagai tenaga kesehatan berada dalam sebuah ekosistem nasional yang sama-sama bergerak menuju profesionalisme berbasis kompetensi.
Baca Juga : Kumpulan Soal UKOM Analis Kesehatan 2025 Lengkap dengan Pembahasan Terbaru
Bagaimana Uji Kompetensi Dilaksanakan: Lembaga, Asesor, dan Proses Penilaian

Memahami “siapa menguji siapa” dan “mengikuti aturan apa” penting bukan hanya agar Anda tenang, tetapi juga agar Anda percaya bahwa proses yang dijalankan memang adil dan terstandar.
1. Siapa Penyelenggara Uji Kompetensi?
Uji kompetensi di Indonesia dapat diselenggarakan oleh beberapa pihak resmi, antara lain:
- Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) atau lembaga serupa yang diakui sejak sekitar 2009 untuk berbagai bidang keahlian.
- Satuan pendidikan atau perguruan tinggi, terutama untuk uji kompetensi mahasiswa program profesi dan vokasi.
- Lembaga pemerintah terkait, misalnya Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, dan direktorat pendidikan tinggi yang berperan dalam penyusunan standar, regulasi, dan pengawasan.
Dalam bidang kesehatan, uji kompetensi biasanya tersusun atas kerja sama:
- asosiasi profesi,
- perguruan tinggi,
- dan kementerian terkait,
sehingga standar yang digunakan merepresentasikan kebutuhan dunia nyata dan ilmu terbaru.
2. Siapa yang Menjadi Penguji atau Asesor?
Penguji dalam uji kompetensi bukan orang sembarangan. Mereka adalah:
- tenaga pendidik atau praktisi ahli,
- yang telah lulus pelatihan khusus sebagai asesor,
- memiliki portofolio yang menunjukkan kompetensi dan pengalaman,
- dan memenuhi standar kualifikasi yang ditetapkan lembaga penyelenggara.
Artinya, mereka tidak hanya menguasai materi, tetapi juga dibekali kemampuan untuk melakukan penilaian yang objektif, sistematis, dan adil. Mereka menggunakan instrumen yang distandarkan, bukan sekadar “feeling” atau penilaian bebas.
3. Bagaimana Proses Penilaiannya?
Secara garis besar, proses uji kompetensi melibatkan:
- Pengumpulan bukti kompetensi, yang bisa berupa:
- hasil uji teori (misalnya CBT),
- hasil uji praktik (misalnya OSCE, skill lab, atau simulasi),
- portofolio,
- observasi langsung di tempat praktik (untuk jenis uji tertentu).
- Pembandingan dengan standar, baik itu SKKNI, standar profesi, atau standar internasional yang diadopsi. Di sini, penilaian tidak bersifat “relatif” terhadap peserta lain, tetapi “absolut” terhadap standar yang telah disepakati.
- Penetapan keputusan kompeten atau belum kompeten, yang kemudian menjadi dasar:
- kelulusan ujian,
- pemberian sertifikat kompetensi,
- atau rekomendasi untuk remediasi dan pengulangan.
Hasil uji kompetensi biasanya tercatat secara formal, dan sertifikat kompetensi yang dihasilkan dapat digunakan:
- untuk pengurusan registrasi dan izin praktik,
- untuk memenuhi persyaratan kerja (termasuk ASN/PPPK),
- dan untuk pengakuan kualifikasi dalam mobilitas kerja, baik di dalam maupun luar negeri, sejauh diakui oleh lembaga terkait.
Hubungan Uji Kompetensi dengan Seleksi ASN/PPPK Tenaga Kesehatan
Bagi tenaga kesehatan, pertanyaan praktisnya sering kali sangat langsung: “Kalau saya belum lulus uji kompetensi, apakah bisa ikut seleksi ASN/PPPK?” atau “Seberapa besar pengaruh uji kompetensi terhadap peluang saya diterima?”
Walaupun detail teknis persyaratan bisa berbeda dari satu tahun ke tahun lain sesuai regulasi, secara prinsip ada beberapa hal yang perlu dipahami.
1. Uji Kompetensi Sebagai Bukti Kesiapan Praktik Mandiri
Seleksi ASN/PPPK pada dasarnya mencari tenaga yang siap ditempatkan di fasilitas pelayanan nyata. Bukan lagi mahasiswa, bukan lagi peserta magang, tetapi tenaga profesional yang:
- mampu mengelola pasien,
- dapat mengambil keputusan klinis dalam lingkup kewenangannya,
- dan memahami sistem pelayanan publik.
Uji kompetensi menjadi jembatan formal dari “status mahasiswa” ke “status profesional”. Tanpa jembatan ini, status kompetensi Anda di mata negara belum jelas. Maka, banyak skema rekrutmen yang mensyaratkan:
- ijazah pendidikan,
- bukti lulus uji kompetensi,
- serta registrasi atau STR (Surat Tanda Registrasi) sesuai profesi sebagai satu paket utama kelayakan.
2. Implikasi Praktis bagi Karier Jika Menunda Uji Kompetensi
Jika seseorang menunda mengikuti uji kompetensi, atau belum dinyatakan lulus, implikasinya bisa meluas:
- tertunda memperoleh sertifikat profesi,
- tertunda mengurus STR,
- dan pada akhirnya, tertunda memenuhi syarat administratif untuk berbagai lowongan, termasuk ASN/PPPK.
Di sisi lain, mereka yang lulus lebih awal cenderung:
- lebih siap merespons peluang lowongan,
- memiliki posisi tawar yang lebih kuat di fasilitas kesehatan,
- dan tidak terhambat ketika ada pembukaan formasi mendadak.
Ini bukan sekadar soal “nilai ujian”, tetapi soal momentum karier. Menguasai uji kompetensi di awal bisa menghemat waktu berharga beberapa tahun ke depan.
3. Kaitan dengan Pengembangan Karier Jangka Panjang
Ke depan, tren global menunjukkan bahwa:
- sertifikasi kompetensi,
- pembaruan registrasi berkala,
- dan bukti pengembangan profesional berkelanjutan,
akan makin penting, terutama jika ingin naik jenjang karier, mengemban jabatan fungsional, atau terlibat dalam program-program khusus pemerintah.
Dengan memandang uji kompetensi sebagai awal dari perjalanan panjang profesionalisme, bukan sekadar “ujian terakhir”, Anda akan lebih siap mengikuti berbagai bentuk penilaian lanjutan di masa depan.
Memahami apa itu uji kompetensi dan bagaimana pengaruhnya terhadap karier baru setengah perjalanan. Bagian lain yang sama penting adalah bagaimana Anda mempersiapkan diri.
Berikut beberapa pendekatan yang bisa membantu, baik dari sisi mental maupun akademik.
1. Ubah Pola Pikir: Dari “Takut Gagal” Menjadi “Ingin Terbukti Kompeten”
Rasa takut gagal sering membuat persiapan menjadi tidak efektif: belajar dengan cemas, sulit fokus, mudah menyerah. Cobalah menggeser sudut pandang:
- bukan “bagaimana kalau saya tidak lulus?”,
- melainkan “bagaimana saya bisa benar-benar menguasai kompetensi yang dibutuhkan pasien saya kelak?”.
Ketika fokus Anda bergeser ke penguasaan kompetensi, belajar menjadi lebih bermakna. Ujian dipandang sebagai alat ukur, bukan musuh.
2. Pahami Standar Kompetensi dan Area yang Dinilai
Setiap uji kompetensi memiliki:
- daftar kompetensi inti,
- indikator penilaian,
- dan ruang lingkup materi.
Luangkan waktu untuk:
- membaca standar kompetensi profesi Anda,
- memetakan area kuat dan lemah,
- serta membuat rencana belajar yang spesifik, bukan asal membaca semua buku.
Ini membantu Anda menghindari perangkap “belajar banyak tapi tidak terarah”.
3. Latih Integrasi Teori dan Praktik
Uji kompetensi, khususnya di bidang kesehatan, jarang sekali hanya menguji hafalan. Soal atau kasus biasanya menuntut:
- penalaran klinis,
- pemilihan intervensi yang tepat,
- dan sikap profesional.
Karena itu, latihan terbaik adalah:
- mempraktikkan skill klinis dengan mengikuti alur standar (SOP),
- dan membiasakan diri menjelaskan tindakan dengan bahasa yang mudah dipahami pasien.
Dengan cara ini, Anda tidak hanya mempersiapkan diri untuk ujian, tetapi juga untuk praktik sehari-hari.
4. Kelola Kesehatan Fisik dan Mental Selama Persiapan
Tenaga kesehatan sering mengingatkan pasien untuk menjaga kesehatan, tetapi lupa menerapkan pada diri sendiri. Saat persiapan uji kompetensi:
- atur jadwal belajar yang realistis,
- beri waktu istirahat yang cukup,
- jaga pola makan dan tidur,
- serta sisihkan waktu untuk aktivitas yang menenangkan (olahraga ringan, ibadah, atau hobi yang tidak menguras energi).
Kelelahan yang menumpuk justru menurunkan daya serap dan performa saat ujian, padahal materi sudah dikuasai.
5. Manfaatkan Komunitas dan Bimbingan
Anda tidak sendiri. Rekan seangkatan, senior yang sudah lulus, dan dosen pembimbing adalah sumber daya penting. Jangan ragu untuk:
- bertanya strategi mereka,
- meminta contoh soal atau simulasi,
- berdiskusi tentang area materi yang sulit.
Di era digital, platform edukasi kesehatan seperti JadiNakes bisa menjadi mitra belajar: menyediakan ringkasan materi, latihan soal, dan panduan strategi lulus uji kompetensi yang terstruktur.
Di balik ketegangan setiap sesi uji kompetensi, ada satu fakta yang patut Anda pegang: keberadaan sistem ini berarti profesi Anda diakui begitu bernilai hingga negara merasa perlu memastikan kualitasnya secara serius. Anda sedang menempuh proses formal untuk diakui sebagai bagian dari garda terdepan kesehatan bangsa, bukan sekadar “lulus kuliah”.
Setiap jam belajar, setiap simulasi kasus, setiap latihan keterampilan adalah investasi yang akan kembali dalam bentuk:
- rasa percaya diri ketika berdiri di depan pasien,
- peluang karier yang lebih luas,
- serta kepercayaan publik yang melekat pada nama dan profesi Anda.
Jika hari ini Anda masih di tahap bertanya-tanya apa itu uji kompetensi dan merasa cemas menghadapinya, langkah pertama sudah Anda ambil: mencari pemahaman yang benar. Langkah berikutnya adalah menyusun strategi, bergerak konsisten, dan mengingat bahwa ribuan tenaga kesehatan sebelum Anda sudah melewati jalan yang sama.
Anda tidak dituntut sempurna, Anda “hanya” dituntut kompeten. Dan kompeten itu bukan bakat bawaan, melainkan hasil latihan yang sabar dan terarah. Terus melangkah, persiapkan diri sebaik mungkin, dan jadikan uji kompetensi sebagai titik awal perjalanan profesional Anda, bukan ujungnya.
Ketika saatnya tiba dan nama Anda tercantum sebagai peserta yang dinyatakan kompeten, itu bukan hanya kemenangan di atas kertas. Itu adalah pengakuan bahwa Anda telah siap berdiri di garis depan pelayanan kesehatan, dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diakui secara nasional. Dan dari sana, pintu-pintu kesempatan, termasuk seleksi ASN dan PPPK, akan terbuka jauh lebih lebar.
Sumber Referensi :
- KERJOO.COM – Pengertian Uji Kompetensi: Manfaat, Tujuan, dan Jenis-jenisnya
- STIKESHB.AC.ID – Apa Itu Ukom dan Fungsinya untuk Mahasiswa
Program Value Jadi NAKES 2025
“APK Bimbel UKOM Mahasiswa Kesehatan 2025 Belajar & Berlatih Memakai Metode Cepat”



📋 Cara Membeli dengan Mudah:
- Unduh Aplikasi JadiASN: Temukan aplikasi JadiASN di Play Store atau App Store, atau akses langsung melalui website.
- Masuk ke Akun Anda: Login ke akun JadiNAKES Anda melalui aplikasi atau situs web.
- Pilih Paket yang Cocok: Dalam menu “Beli”, pilih paket bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Pastikan untuk melihat detail setiap paket.
- Gunakan Kode Promo: Masukkan kode “BIMBELNAKES” untuk mendapat diskon spesial sesuai poster promo
- Gunakan Kode Afiliasi: Jika Anda memiliki kode “RES128”, masukkan untuk diskon tambahan.
- Selesaikan Pembayaran: Pilih metode pembayaran dan selesaikan transaksi dengan aman.
- Aktivasi Cepat: Paket Anda akan aktif dalam waktu singkat setelah pembayaran berhasil.
Ayoo Download Aplikasi JadiAsn karena banyak sekali yang bisa kamu dapatkan agar kalian CEPAT TERLATIH dengan Soal soal NAKES 2025!!!
- Dapatkan ribuan soal CPNS 2025 dengan pembahasan yang mudah dipahami, berupa video dan teks
- Live Class Gratis (Berlajar Bareng lewat Zoom)
- Materi-materi NAKES 2025
- Ratusan Latsol NAKES 2025
- Puluhan paket Simulasi NAKES 2025
- dan masih banyak lagi yang lainnya
>

